Saya (32), anak pertama saya lahir dengan bb 3,2 kg, panjang 49 cm. Anak kedua lahir dengan bb 3,7 kg, panjang 52 cm. Alhamdulillah semua lahir normal walaupun dengan banyak jahitan. Pertanyaan saya, di setiap kehamilan menginjak usia 7 bulan, dokter menyarankan untuk mengurangi karbohidrat, terutama nasi. Sudah saya ikuti semua saran dokter, tapi mengapa masih besar juga baby saya. Saya juga banyak makan sayur, buah, vitamin, roti gandum, dan susu untuk ibu hamil. Apakah kalau saya hamil lagi baby saya akan lahir dengan bb besar lagi?

Baca juga : kursus bahasa Jerman di Jakarta

Bisa tidak dok, saya melahirkan dengan sedikit jahitan? Bagaimana caranya? (bb saya 45 kg dan tinggi 150 cm). Termasuk kecil, tapi kalau hamil perut selalu besar. Saya ingin hamil sekali lagi sebelum usia 40. Mohon jawaban dokter judi. Terima kasih. Agni – Bandung Ukuran janin dipengaruhi oleh faktor genetik kedua orangtua (apakah suami Ibu tinggi dan besar?), kesehatan janin, kesehatan ibu, dan nutrisi selama kehamilan. Makanan banyak karbohidrat dan mengemil makanan kecil, sering menjadi sebab utama bayi besar. Penyakit kencing manis (diabetes mellitus) juga merupakan penyebab lain dari bayi besar (makrosomia).

Dari data yang Ibu sampaikan, Ibu memiliki panggul luas, tetapi kapasitas panggul ibu kemungkinan tidak melebihi 4 kg sehingga pada kehamilan yang akan datang sebaiknya berat janin kurang dari 3.500 g. Dari awal kehamilan harus sudah mengurangi karbohidrat dan tidak mengonsumsi makanan dan minuman manis. Secara teoritis bila Ibu dan janin sehat, maka janin Ibu berikutnya akan semakin besar. Kehamilan berikutnya sebaiknya sebelum usia 34 tahun karena angka cacat bawaan semakin tinggi saat ibu melahirkan pada usia 35 tahun. Hal ini berkaitan dengan kesehatan dan kualitas sel telur ibu yang usianya sudah tua. Perbanyak makan makanan yang sehat dan alamiah serta minum tablet asam folat secara rutin, minimal 3 bulan sebelum hamil. Terima kasih atas pertanyaannya.

Stres Pun Bisa Menggagalkan Bayi Tabung

Pada 2005, Fertility and Sterility meri lis sebuah penelitan di University of California. Hasil penelitian tersebut melaporkan bahwa 20% Mama yang melakukan bayi tabung (in vitro fer tilization-IVF) kemudian mengalami stres, sel telurnya tidak dapat terbuahi dibandingkan mereka yang tidak stres. Hal ini pun bisa saja terjadi pada Mama yang melakukan program inseminasi apalagi pembuahan normal melalui hubungan intim. Karena itu, Mama dan Papa yang melakukan pembuahan dengan bantuan pun sebaiknya meng hindari stres untuk meningkatkan ke berhasilan pembuahan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *