Cerita Unik Karya Ikonik bag3

Ada lagi cerita tentang lukisan Jenderal Sudirman karya Joes Soepadyo (1954), 77 x 59 cm. Syahdan pada suatu hari pada 1962, Presiden Sukarno marah besar kepada segenap anggota staf pengurus Istana Merdeka.“Saya kehilangan sebuah lukisan. Mana lukisan Jenderal Sudirman karya Joes Soepadyo?” Para karyawan Istana langsung kecut dan buruburu mencari lukisan yang dimaksud. Lim Wasim, sebagai pelukis Istana Presiden (1962–1967), merasa paling bertanggung jawab. Wasim bingung, karena Dullah ketika menyerahkan daftar lukisan Istana kepada pelukis Istana yang baru tak menyebutkan lukisan itu digantung di mana. Sampai beberapa hari lukisan itu tidak ditemukan.

Sukarno lantas memanggil sejumlah karyawan Istana Kepresidenan. Dengan gusar, sang Presiden menggebrak meja sambil menuding-nuding semua orang. “Kalau begitu, kalian semua pencuri, pencuri, pencuri!” Setelah sang Presiden pergi, Mayor Jenderal Soehardjo Hardjowardojo, Kepala Rumah Tangga Militer Istana Presiden yang juga ikut dituding-tuding, segera menetralkan keadaan. Dengan persis menirukan Presiden, ia lalu menudingnuding Wasim dan kawankawannya yang masih gemetar. “Memang! Kalian semua pencuri, pencuri, pencuri!” Gelak tawa pun terjadi. Mendengar gelak tawa itu, Sukarno balik lagi sambil berkacak pinggang dengan mata memandangi semua orang.

Akhirnya, suatu hari Wasim menemukan lukisan itu tergantung di dinding tinggi di Gedung Sekretariat Negara. Wasim berkata, “Percaya atau tidak, Sukarno dan lukisan Jenderal Sudirman memiliki hubungan spiritual. Sukarno sering merenung dan memecahkan perkara kenegaraan yang sulit-sulit di hadapan lukisan itu.” Ketika zaman beralih ke Orde Baru, Presiden Soeharto juga tampak memiliki hubungan dekat dengan lukisan tersebut. Dengan demikian, selama berpuluh-puluh tahun lukisan itu diposisikan di kamar tamu Istana Negara. Untuk itu, setiap kali Presiden menerima tamu, dan direkam kamera televisi, lukisan Jenderal Sudirman selalu tampak di sampingnya. “Mungkin Pak Harto membayangkan dirinya sedang berada di samping Pak Dirman, seperti yang terekam dalam foto kejadian nyata di Alun-alun Yogya, 1949,” tutur Joop Ave pada suatu kali.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *